sanmaula's BLOG


Menuju Masyarakat “sehat”
27 Oktober 2010, 10:12 AM
Filed under: Sosial

Oleh: Ustadz Abdullah Som Assegaf

SECARA umum, dapat disimpulkan bahwa suatu masyarakat dikatakan “sehat” pabila memiliki daya tarik sekaligus daya tolak. Daya tarik dalam pengertian bahwa dalam masyarakat tersebut tercipta suasana persatuan, kasih sayang, dan amar makruf nahi mungkar. Daya tolak dalam pengertian bahwa masyarakat tersebut bersikap tegas dan keras terhadap orang/masyarakat lain yang jadi musuhnya.

Al-Quran mulia dalam beberapa rangkaian ayatnya menyebutkan bahwa masyarakat muslim memiliki karakteristik khusus yang tak dimiliki masyarakat lain. Mereka cenderung lemah-lembut terhadap sesama dan bersikap keras terhadap musuh Allah Swt.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang terhadap sesama mereka: kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud.(al-Fath: 29)

Rasa kasih sayang dan sikap tawadu terhadap sesama muslim dicontohkan dengan sempurna oleh Imam Ali Zainal Abidin. Suatu hari, beliau dengan mengendarai kuda melewati daerah yang dihuni sekelompok penderita kusta yang sedang makan siang dan mengundang beliau hadir dan makan bersama mereka.

Imam Ali Zainal Abidin turun dari kudanya dan menjawab, “Demi Allah, seandainya aku tidak berpuasa, niscaya aku akan makan bersama kalian.”

Lalu beliau pulang dan menyiapkan makan malam. Setelah itu, beliau mengundang para penderita kusta tersebut untuk makan malam bersama di rumah beliau yang penuh berkah.

Dalam al-Quran disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Mahatahu. (al-Mâidah: 54)

Demikianlah, masayarakat yang saling menghormati, saling mencintai, dan saling percaya adalah masyarakat yang sehat, sempurna, dan disegani musuh-musuhnya.

Sebaliknya, masyarakat yang sakit diisi para individu yang saling bermusuhan satu sama lain. Oleh sebab itu, musuh masyarakat adalah pihak-pihak yang sengaja menyebarkan isu-isu buruk di tengah-tengah mereka, sehingga mereka menjadi masyarakat yang terpecah belah dan saling membenci.(al-Mâidah: 91, al-Baqarah: 209).

“Penyakit” yang Merusak Masyarakat

Banyak sekali penyakit berupa sifat-sifat negatif yang dapat merusak keutuhan masyarakat. Upaya untuk mewujudkan masyarakat muslim tentunya meliputi upaya-upaya untuk melenyapkan sifat-sifat negatif yang melekat pada tubuh masyarakat tersebut, serta tidak membiarkannya tambah kronis dan mewabah. Salah satu kebiasaan negatif tersebut adalah membicarakan keburukan orang lain, baik antar perorangan (diskusi) maupun kolektif (ngerumpi).

Kebiasaan yang berbahaya haruslah segera dihilangkan. Sebab itu bukan hanya merintangi upaya penyelesaian masalah, namun juga dapat menular dan menjadi kebiasaan umum. Bila kebiasaan tersebut menjadi lazim di tengah-tengah masyarakat, niscaya para anggota masyarakat tak akan lagi menganggapnya sebagai perbuatan buruk.

Demikian pula perihal membicarakan keburukan seseorang bila; sudah menjadi lazim di tengah-tengah masyarakat, niscaya keburukan yang dibicarakan akan menjadi lazim pula di tengah-tengah masyarakat. Seperti pembicaraan seputar perbuatan zina yang terjadi di tengah-tengah masyarakat; bila sudah menjadi kebiasaan, niscaya masyarakat akan terbiasa mendengarnya, dan pada taraf selanjutnya, perbuatan zina tersebut menjadi hal yang biasa.

Demikian pula, Islam amat mengecam perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan. Sebab, perbuatan maksiat adalah api yang mudah sekali merambat dan membakar serta merusak selainnya. Karena itulah, api maksiat harus segera dipadamkan dengan melaksanakan kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dinukil Imam Khomeini dalam Tahrir al-Wasîlah, bab “Amr Ma’ruf Nahi Munkar”, mengisyaratkan bahwa masyarakat terdahulu menjadi rusak lantaran adanya perbuatan mungkar yang dilakukan tanpa ada yang melarang.

Sebaliknya, Islam tidak menerapkan hukuman terhadap orang yang melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi. Dengan demikian, membicarakan secara terbuka perbuatan dosa yang dilakukan seseorang secara sembunyi-sembunyi sama dengan melakukan perbuatan dosa terang-terangan yang mengobarkan api maksiat di tengah-tengah masyarakat. Perbuatan ini sekali lagi sangat amat dikecam oleh Islam lantaran dampak negatifnya yang sangat besar terhadap perihidup masyarakat.

Demikian pula, melakukan kebiasaan buruk dengan melontarkan panggilan-panggilan buruk juga dikecam Islam. Dalam riwayat pernah disebutkan bahwa seorang sahabat Imam Ja’far al-Shadiq yang memiliki budak hitam pernah memanggil budaknya sampai dua kali, tapi sang budak tidak mendengarnya. Akhirnya, sang tuan memanggilnya dengan, “Yabna zina (wahai anak zina).”

Imam Ja’far al-Shadiq kemudian menegur orang tersebut yang dijawab orang tersebut bahwa budaknya itu adalah anak orang kafir.

Imam mengatakan, “Bukanlah mereka memiliki cara-cara pernikahan sendiri?” Sejak itu, Imam Ja’far tak pernah terlihat lagi berjalan bersama orang tersebut.

Pesan

Lewat tulisan ini, kami ingin menyampaikan pesan kepada pembaca sekalian; janganlah Anda menyebarkan api kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat dengan membicarakan dan menyebarkan perbuatan buruk seseorang atau dengan berghibah, tuhmah (menuduh), dan semacamnya.

Dalam surat al-Nûr, Allah Swt berfirman: Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa) tidak berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Mengapa mereka (yang menuduh) tidak mendatangkan empat orang saksi demi membenarkan berita (bohong) tersebut? Dikarenakan tidak mendatangkan saksi-saksi, maka di sisi Allah, mereka tak lebih dari orang-orang yang suka berdusta.

Sekiranya tak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada Anda semua di dunia dan di akhirat, niscaya Anda ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan Anda tentang berita bohong tersebut.

(Ingatlah) di waktu Anda menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kemudian Anda katakan lagi dengan mulut Anda tanpa Anda ketahui sedikit pun dan Anda menganggapnya sebagai sesuatu yang enteng saja. Padahal itu pada sisi Allah adalah dosa yang besar.

Dan mengapa sewaktu menerima berita bohong itu, Anda tidak mengatakan: sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.

Allah memperingatkan Anda sekalian agar (jangan) kembali mengukuhkan segenap kebiasaan buruk yang umum dilakukan sebelumnya itu selama-lamanya, bila Anda memang orang yang beriman. Sungguh Allah telah mengemukan hal ini dalam ayat-Nya kepada Anda. Dan Allah Mahatahu dan Mahabijak.

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka adalah azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (al-Nûr: 12-19)

Diriwayatkan, telah datang seseorang kepada Imam Ja’far al-Shadiq. Ia berkata kepada beliau, “Wahai Imam, seseorang telah mengatakan kepadaku perihal keburukan yang dilakukan saudara (seagama)-Nya. Kemudian aku datang dan menanyakan kepada saudaranya itu dan ia pun membantahnya, sedangkan orang yang membawa berita adalah orang yang dapat dipercaya. Bagaimana menurut Anda?” Imam Ja’far menjawab, “Dustakanlah ia (pembawa berita). Meskipun ia dikuatkan lima puluh orang lainnya.”

Para pembaca yang budiman, bagaimanapun tsiqah (terpercaya)nya seseorang, pabila ia menceritakan keburukan saudaranya yang lain, dustakanlah ia dan peringatkanlah bahwa dirinya telah melanggar larangan Allah Swt. []

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: